Miras dan FreeSex

Posted by adjie | MIraS n SEx | Thursday 4 February 2010 7:58 pm

Secara langsung, pecandu narkoba (khususnya mereka yang mempergunakan jarum suntik) dapat menjadi saran penularan HIV/AIDS. Secara tidak langsung narkoba dan miras biasanya terkait erat dengan pergaulan seks bebas. Di samping itu kecanduan obat terlarang pada orang tua akan mengakibatkan bayi lahir dengan ketergantungan obat sehingga harus mengalami perawatan intensif yang mahal. Kebiasaan menggunakan narkoba/miras dapat menurun pada sifat-sifat anak yang dilahirkan, yaitu menjadi peminum dan pecandu, atau mengalami gangguan mental/cacat. Perempuan “pemakai” mempunyai sikap hidup malas dan kekurangan gizi sehingga mengakibatkan bayi dalam kandungan gugur, berat lahir rendah atau cacat.
Ingin mencoba? Jangan pernah berpikir untuk mencoba dan jangan mau kalau dijadikan ”kelinci” percobaan. Tindakan mencoba merupakan langkah awal untuk terjerumus. Mencoba karena ditawari meski tanpa membeli, apalagi kalau harus membeli. Keduanya sama jeleknya. Yang pertama, bisa jadi karena Anda akan dijadikan ”sasaran pengedar”. Yang kedua, Anda akan terkuras ”kantongnya”. Mengapa? Karena kedua-keduanya, yakni ditawari atau membeli dan mengkonsumsi minum-minuman keras, akan melahirkan ”ketergantungan”.
Tetapi mengapa, dewasa ini banyak remaja masuk dalam jeratan miras, dan ”berlatih” menjadi ”dokter-dokteran”? Tulisan ini akan mencoba menganalisis kecenderungan seperti itu dalam perspektif sosial-budaya.

2. Fakta Pengguna sebagai Fenomena Gunung Es

Beberapa kasus
Meningkatnya masalah-masalah sosial di masyarakat sudah terjadi di berbagai kota besar maupun kota kecil. Di Jawa, maupun di luar Jawa. Pendeknya, berbagai tindakan negatif sudah terjadi di hampir semua kawasan di Indonesia.
Belakangan ini, terjadi, seperti kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, kecelakaan lalulintas dan kasus kriminal lainnya. Belum termasuk yang jadi cacat. Pemerkosaan terjadi dimana-mana, pemalakan dan pemaksaan di jalan serta perampasan. Kasus-kasus itu terjadi, umumnya disebabkan oleh akibat minuman keras (Miras).

Di Jayapura, baru-baru ini, terdapat delapan siswa yang masih mengenakan
pakaian seragam SMA ditemukan pesta minuman keras (Mabuk Bersama). Mereka melakukan pesta miras itu, di belakang gereja dekat Jembatan Overtoom Kota Jayapura.

Di Balikpapan, kedapatan empat pemuda (26/5/2007) menggelar pesta miras
berkadar alkohol di atas 40 % di kawasan Jl Mulawarman Sepinggan Balikpapan Selatan, tengah malam lalu, sekitar pukul 22.00 Wita.

Di Pasuruan, Satnarkoba menyita sedikitnya 1.340 botol miras berbagai merk.
Kini seluruh miras tersebut diamankan di mapolres. Petugas sempat kerepotan saat merazia sejumlah toko yang menjual miras. Pasalnya, oleh pemilik, minuman haram tersebut disembunyikan.

Di Cianjur, ada siswa dan siswi sekolah menengah umum negeri di Cianjur
terlibat seks bebas. Melakukan seks oral di kelas. Adegan itu direkam seorang pelajar lain, dengan telepon selulernya. Tidak lama kemudian, gambar ”dokter-dokteran” itu, beredar di antara para pelajar pemilik seluler di Cianjur. Lebih memalukan lagi, seorang guru terlibat kegiatan seks bebas bersama mereka. Guru pengajar biologi, ayah tiga anak. Tapi, pergaulan bebas itu sama sekali bukan monopoli pelajar Cianjur.
Para remaja di kota-kota lain pun, terutama kota besar, kini dinilai cenderung lebih permisif dalam urusan seks. Ini gejala apa?

3. Analisa
Remaja adalah kategori usia transisional. Masa ambang status perpindahan dari anak-anak ke dewasa. Di bilang anak-anak sudah tidak. Tetapi dibilang dewasa, juga belum. Jadi apa? Ya ”Anak Baru Gede” alias ABG.
Di Purwodadi, beberapa pemilik toko sempat mengelak dikatakan menjual miras.
Namun, petugas tetap melakukan penggeledahan. Akhirnya, di toko milik Roni, tersebut petugas
menemukan sejumlah miras berbagai merk. Selain di toko-toko yang biasa
menjual miras, petugas juga merazia warung remang-remang di kawasan
Pandaan dan Gempol. Hasilnya ribuan miras berbagai merk berhasil
diamankan dari tempat itu. Selain mengamankan ribuan miras, petugas
juga sempat mengamankan sembilan pemilik minuman haram tersebut.
Yang kemudian, pemilik miras tersebut di serahkan ke PN untuk dijatuhi sanksi tindak pidana ringan.
Dekatkan diri dengan tuhan. Jadikan keluarga sebagai tempat perlindungan jika menghadapi suatu masalah. Carilah sahabat yang baik. Bergabunglah dengan kelompok yang memiliki tujuan yang positif. Jauhi kelompok yang tidak memiliki tujuan yang jelas.
Ingatlah bahwa masalah narkoba dan miras adalah masalah kita bersama.Karena itu janganlah mengucilkan atau menjauhi mereka yang terkena nakoba dan miras.
Sebaliknya rangkulah mereka dan bantulah mereka keluar dari permasalahan
tersebut. Dukunglah dan bantulah keluarga korban untuk bersama-sama
menolong korban. Jika mengalami banyak hambatan dalam membantu
keluarga korban, rujuklah penanganan korban melalui keluarganya kepada pihak yang memiliki kemampuan untuk itu.
Untuk itu, jika mau menyelamatkan generasi saat ini, maka saatnya perlu ada aturan atau Perda pelarangan penjualan miras.
Mengapa? Karena miras sama sekali tidak menguntungkan, kecuali hanya mendatangkan kerugian bagi yang mengkonsumsinya. Dari sisi kesehatan tidak baik, seperti halnya pecandu narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya. Miras bisa membuat yang menkonsumsinya selalu ketergantungan miras, jadi generasi yang loyo dan malas bekerja, termasuk belajar. Begitu juga dari segi ekonomi sangat merugikan (pengeluaran yang tidak wajar), terlebih merusak moral anak bangsa. Selain itu, miras membuat yang menkonsumsinya kehilangan kontrol, jadi loyo kerja tidak produktif. Tak hanya itu, Miras juga menimbulkan berbagai macam penyakit bagi penggemarnya. Merusak mental dan perilaku generasi muda yang merupakan
generasi masa depan keluarga, generasi masa depan daerah dan bangsa Indonesia.
“Lalu generasi macam apa yang kita akan hasilkan kedepan?

Revolusi Seks Bangku Sekolah

Bagaimana mereka bisa begitu bebas dalam urusan seks? “Awalnya dikerjain pacar,” lalu mereka putus, lalu mencari gebetan baru dengan status anyar: Di antara dengan melayani pria hidung belang. Sebab, ia butuh duit untuk membeli handphone –nama beken telepon seluler. Dan “tuntutan pergaulan” itu terus berlanjut karena tiap bulan pulsa teleponnya habis. Sedangkan orangtuanya yang pas-pasan tak memberinya jatah duit.

Para remaja kini betul-betul tersesat ke zaman baru. Menurut seksolog Profesor Wimpie Pangkahila, pandangan masyarakat tentang seks memang telah berubah jauh.
Seks tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral untuk dibicarakan,
bahkan mulai dianggap sah-sah saja dilakukan meski tanpa ikatan.

“Akibatnya, perilaku seksual masyarakat makin bebas, tidak lagi terikat oleh norma-norma. Dulu hamil sebelum menikah dianggap kecelakaan. Sekarang orang menikah dengan perut buncit. Mulai hal biasa.

Ada apa di balik kasus-kasus diatas?
Gelombang kebebasan seks terasa kian menggelora setelah internet membumi pertengahan 1990-an, diikuti teknologi telepon seluler yang kian canggih. Keduanya memberikan fasilitas baru bagi pergaulan yang nyaris tanpa sekat. Internet bukan cuma menyuguhkan gambar-gambar seronok lewat situs-situs pornonya, juga menjadi media untuk mencari kawan baru dengan semangat mesum. Telepon seluler yang dilengkapi kamera kini cenderung dianggap peranti dokumentasi baru untuk hal-hal yang paling pribadi.
Semuanya telah menjadi alat gaul baru yang memicu perilaku aneh.

Lihat saja, banyak foto jorok para remaja tersebar dari layar seluler, bahkan masuk jaringan internet. Yang paling heboh adalah kasus foto telanjang siswa kelas III sebuah SMU Negeri, di Mojokerto, Jawa Timur, yang juga menjadi Yuk (Gadis) Mojokerto 2005. Foto-foto bugilnya terpajang di situs smu1puri.cjb.net, sejak Oktober lalu.
Pose-pose telanjang itu, seperti dilaporkan wartawan Gatra di Surabaya,
Rach Alida Bahaweres, diduga dibuat oleh pacar sang gadis di sebuah penginapan di Lawang, Malang, pada September lalu. Entah siapa yang kemudian mentransfernya ke internet dan apa motifnya. Yang jelas, gadis Mojokerto itu, Endang Christy Handayani, 18 tahun, tetap menolak mengakui gambar-gambar itu sebagai foto dirinya. Kini, Endang yang cukup berpretasi di sekolahnya itu menghilang setelah gelar Yuk Mojokertonya dicabut. Gambar-gambar mesum para gadis lokal lainnya di internet –kadang dalam adegan panas dengan pasangannya– tak terjelaskan asal-usulnya. Namun, semuanya menunjukkan bahwa kebebasan baru sudah lahir: seks terang-terangan.

Revolusi seks yang mencuat di Amerika Serikat dan Eropa pada akhir 1960-an seolah sudah merambah ke sini, melalui peranti teknologi informasi, dan sarana hiburan yang makin canggih. Bintang-bintang porno film biru Amerika kini dengan gampang bisa dinikmati melalui alat pemutar VCD dan DVD.
Hasil riset Synote tahun 2004 juga membuktikannya. Riset dilakukan di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Dari 450 responden, 44% mengaku berhubungan seks pertama kali pada usia 16-18 tahun. Bahkan ada 16 responden yang mengenal seks sejak usia 13-15 tahun. Sebanyak 40% responden melakukan hubungan seks di rumah. Sedangkan 26% melakukannya di tempat kos, dan 20 % lainnya di hotel.

Survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap 2.880 remaja usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat pada 2002, juga menunjukkan angka menyedihkan. Sebanyak 39,65% dari mereka pernah berhubungan seks sebelum nikah.

Sungguh celaka: para remaja mungkin mengidentikkan kebebasan seks dengan pergaulan modern. Padahal, menurut seksolog dokter Naek L. Tobing, seks bebas adalah kehidupan primitif. “Seks bebas terjadi sebelum agama-agama lahir,” katanya.
Ketika peradaban semakin maju, dan ilmu pengetahuan berkembang, seks bebas ternyata terbukti membawa banyak persoalan. Selain merusak tatanan sosial juga menyebarkan berbagai penyakit gawat.

Tanpa peran agama, pendidikan dan kontrol keluarga, kebebasan seks bisa jadi bakal makin menyesatkan. Sekuat-kuatnya mental seorang remaja untuk tak tergoda pola hidup seks bebas kalau terus menerus mengalami godaan dan dalam kondisi sangat bebas dari kontrol tentu satu saat akan tergoda pula untuk melakukannya.
Godaan semacam itu terasa lebih berat lagi bagi remaja yang memang benteng mental dan keagamaannya tak begitu kuat.

http://staff.undip.ac.id/sastra/mudjahirin/2009/03/06/miras-dan-free-sex-remaja/

Bahaya Narkoba

Posted by adjie | NarkoBA | Thursday 4 February 2010 7:33 pm

Pada Tanggal 26 Juni 2006 lalu diperingati sebagai Anti Madat Sedunia. Didorong keprihatinan akan meningkatnya pengguna narkoba khususnya di kalangan remaja, maka sebagai wujud kepedulian bz! berkenaan dengan peringatan Hari Anti Narkoba Internasional serta sebagai upaya mencegah meluasnya pemakaian narkoba terutama dikalangan remaja, redaksi menurunkan artikel mengenai bahaya narkoba — redaksi

bz!fit Masalah utama remaja berawal dari pencarian jati diri. Mereka mengalami krisis identitas karena untuk dikelompokkan ke dalam kelompok anak-anak merasa sudah besar, namun kurang besar untuk dikelompokkan dalam kelompok dewasa. Hal ini merupakan masalah bagi setiap remaja di belahan dunia ini.

Oleh karena pergumulan di masa remaja ini, maka remaja mempunyai kebutuhan sosialisasi yang seoptimal mungkin, serta dibutuhkan pengertian dan dukungan orangtua dan keluarga dalam kerentanan di masa remaja.

Bila kebutuhan remaja kurang diperhatikan, maka remaja akan terjebak dalam perkembangan pribadi yang “lemah”, bahkan dapat dengan mudah terjerumus ke dalam belenggu penyalahgunaan narkoba.

Hingga sekarang, penyalahgunaan narkoba semakin luas di masyarakat kita, terutama semakin banyak di kalangan para remaja yang sifatnya ingin tahu dan ingin coba-coba. Banyak alasan mengapa banyak yang terjerumus ke bahan terlarang dan berbahaya ini kemudian tidak mampu melepaskan diri lagi. Alasannya antara lain:
1. hal ini sudah dianggap sebagai suatu gaya hidup masa ini
2. dibujuk orang agar merasakan manfaatnya
3. ingin lari dari masalah yang ada, untuk merasakan kenikmatan sesaat
4. ketergantungan dan tidak ada keinginan untuk berhenti
..dan mungkin masih banyak alasan lainnya.

Ada baiknya kita mengintip sedikit tentang narkoba. Apa saja sih jenis-jenis narkoba? Menurut situs kespro dot info, pada dasarnya narkoba itu dibagi atas 4 kelompok, yaitu:
1. narkotika, terutama opiat atau candu.
2, halusinogenik, misalnya ganja atau mariyuana
3. stimulan, misalnya ekstasi dan shabu-shabu
4. depresan, misalnya obat penenang.

Masing-masing kelompok mempunyai pengaruh tersendiri terhadap tubuh dan jiwa penggunanya. Opiat, yang menghasilkan heroin atau “putauw” menimbulkan perasaan seperti melayang dan perasaan enak atau senang luar biasa, yang disebut euforia. Tetapi ketergantungannya sangat tinggi dan dapat menyebabkan kematian.
Marijuana atau ganja, yang termasuk kelompok halusinogenik, mengakibatkan timbulnya halusinasi sehingga pengguna tampak senang berkhayal. Tetapi sekitar 40-60 persen pengguna justru melaporkan berbagai efek samping yang tidak menyenangkan, misalnya muntah, sakit kepala, koordinasi yang lambat, tremor, otot terasa lemah, bingung, cemas, ingin bunuh diri, dan beberapa akibat lainnya.

Bahan yang tergolong stimulan menimbulkan pengaruh yang bersifat merangsang sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan rangsangan secara fisik dan psikis. Ecstasy, yang tergolong stimulan, menyebabkan pengguna merasa terus bersemangat tinggi, selalu gembira, ingin bergerak terus, sampai tidak ingin tidur dan makan. Akibatnya dapat sampai menimbulkan kematian.

Sebaliknya bahan yang tergolong depresan menimbulkan pengaruh yang bersifat menenangkan. Depresan atau yang biasa disebut obat penenang, dibuat secara ilmiah di laboratorium. Berdasarkan indikasi yang benar, obat ini banyak digunakan sesuai dengan petunjuk dokter. Dengan obat ini, orang yang merasa gelisah atau cemas misalnya, dapat menjadi tenang. Tetapi bila obat penenang digunakan tidak sesuai dengan indikasi dan petunjuk dokter, apalagi digunakan dalam dosis yang berlebihan, justru dapat menimbulkan akibat buruk lainnya.

Apa akibat penyalahgunaan narkoba?

bz!fit2 Pada dasarnya akibat penyalahgunaan narkoba dapat dibagi menjadi akibat fisik dan psikis. Akibat yang terjadi tentu tergantung kepada jenis narkoba yang digunakan, cara penggunaan, dan lama penggunaan.

Beberapa akibat fisik ialah kerusakan otak, gangguan hati, ginjal, paru-paru, dan penularan HIV/AIDS melalui penggunaan jarum suntik bergantian. Sebagai contoh, sekitar 70 persen pengguna narkoba suntikan di Cina tertular HIV/ AIDS. Di Indonesia, sejak beberapa tahun terakhir ini jumlah kasus HIV/AIDS yang tertular melalui penggunaan jarum suntik di kalangan pengguna narkotik tampak meningkat tajam. Akibat lain juga timbul sebagai komplikasi cara penggunaan narkoba melalui suntikan, misalnya infeksi pembuluh darah dan penyumbatan pembuluh darah.

Di samping akibat tersebut di atas, terjadi juga pengaruh terhadap irama hidup yang menjadi kacau seperti tidur, makan, minum, mandi, dan kebersihan lainnya. Lebih lanjut, kekacauan irama hidup memudahkan timbulnya berbagai penyakit.

Akibat psikis yang mungkin terjadi ialah sikap yang apatis, euforia, emosi labil, depresi, kecurigaan yang tanpa dasar, kehilangan kontrol perilaku, sampai mengalami sakit jiwa.
Akibat fisik dan psikis tersebut dapat menimbulkan akibat lebih jauh yang mungkin mengganggu hubungan sosial dengan orang lain. Bahkan acapkali pula merugikan orang lain. Sebagai contoh, perkelahian dan kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena pelaku tidak berada dalam keadaan normal, baik fisik maupun psikis.

Narkoba yang Adiktif

Penggunaan narkoba dapat menimbulkan ketergantungan. Ketergantungan terhadap narkoba ternyata tidak mudah diatasi. Meski cukup banyak remaja yang berjuang untuk keluar dari ketergantungan narkoba, acap kali mereka jatuh kembali. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah meluncurkan program substitusi obat dengan menggunakan metadon. Diharapkan dengan pemberian metadon ini penggunaan narkoba suntikan dapat dikurangi atau dihentikan. Penggunaan narkoba suntikan amat berisiko menularkan penyakit Hepatitis C dan HIV.

Penelitian di RS Cipto Mangunkusumo mendapatkan angka kekerapan Hepatitis C di kalangan pengguna narkoba suntikan mencapai 77 persen. Sedangkan kekerapan HIV pada pengguna narkoba suntikan di Indonesia berkisar antara 60 persen sampai 90 persen.

Dukungan Sangat Penting

Setelah beban fisik pengguna narkoba suntikan dapat diatasi, maka masih ada beban psikologis dan sosial. Beban psikologis dan sosial ini kadang-kadang amat berat sehingga dapat menyebabkan remaja kambuh kembali menggunakan narkoba suntikan. Oleh karena itu, perlu diwujudkan lingkungan yang mendukung. Di Indonesia lingkungan yang paling penting adalah keluarga. Kesediaan keluarga untuk menerima remaja yang pernah menggunakan narkoba suntikan di tengah keluarga merupakan dukungan yang amat berharga. Sebagian remaja dapat meneruskan pendidikannya dan memperoleh pekerjaan. Namun, sebagian lagi tak mungkin meneruskan sekolah dan harus menghadapi kenyataan bahwa mereka harus berjuang untuk hidup dengan bekal pendidikan yang terbatas.

Hendaknya kita dapat meningkatkan berbagai potensi yang ada di tengah masyarakat. Kita perlu bergandeng tangan untuk mencegah remaja menggunakan narkoba.

Adapun bagi remaja yang telah menggunakan diperlukan layanan yang terpadu untuk membawa mereka kembali ke tengah masyarakat. Layanan tersebut rumit dan memerlukan upaya jangka panjang, tetapi semua upaya itu patut kita kerjakan karena sebagian masa depan Indonesia ada di tangan mereka mereka.\

http://bz.blogfam.com/2006/07/bahaya_narkoba_pada_remaja.html

Perkelahian Pelajar

Posted by adjie | PerkelAhiaN | Thursday 4 February 2010 7:22 pm

Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar SMU,
tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada
remaja.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas
Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan
menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat
lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban
meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat.
Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus.

Dampak perkelahian pelajar

Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari
perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif
pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas
lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir,
mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi,
perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk
memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang
terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.
Pandangan umum terhadap penyebab perkelahian pelajar

Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang
lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah
sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering
berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa
kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis
dan sering tidak berada di rumah.

Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian
kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat
misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.

Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan
remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi
yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang
“mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan
masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam
suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya,
termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.

Tinjauan psikologi penyebab remaja terlibat perkelahian pelajar

Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering
disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila
dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.

Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan
yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua
rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak.  Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada
setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi
memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari
masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk
memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah
frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang
kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.

Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak
pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang
wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan
tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung
dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas
yang dibangunnya.

Faktor sekolah. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi
sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang
tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan
pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar
sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling
penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang
sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.

Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak
terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang
berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar.
Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar
sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku
berkelahi.

http://www.duniaesai.com/psikologi/psi8.html

Hello world!

Posted by adjie | Uncategorized | Tuesday 2 February 2010 2:57 pm

Welcome to Student Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!